Meskipun secara luas istilah LMS hampir selalu dikonotasikan kepada kegiatan belajar dan mengajar pada institusi pendidikan namun faktanya jenis aplikasi ini telah digunakan secara luas oleh banyak organisasi bisnis atau korporasi untuk membantu meningkatkan kapasitas wawasan karyawan mereka secara murah, efisien, dan nyaman untuk dikelola. Sebagai referensi, dilansir dari Sky Prep, di akhir tahun 2014 lebih dari 40% perusahaan-perusahaan paling menguntungkan di dunia (Fortune 500) telah mengembangkan dan menggunakan LMS sebagai bagian dari sistem pelatihan karyawan mereka, di antaranya adalah Coca Cola, Toyota, dan IBM.

 

APA ITU LMS?

Sebelum memilah definisi dari LMS, ada baiknya kita memahami dulu bagan besar dari konsep LMS, yakni e-Learning. Electronic Learning (e-Learning), Virtual Learning, atau Online Learning merupakan istilah-istilah yang memiliki maksud sama. Istilah ini dimulai pada sebuah seminar mengenai sistem CBT (Computer Based Test) yang diselenggarakan pada Oktober 1999 di Los Angeles, Amerika Serikat. Secara singkat, semua istilah itu adalah untuk menunjuk pada “Cara belajar dengan menggunakan teknologi baru, dapat dilakukan secara interaktif, dan bisa dipersonalisasi melalui internet atau perangkat elektronik lainnya yang semua aktivitasnya tidak membatasi proses belajar pada waktu dan tempat tertentu.” Meskipun istilah ini timbul di tahun 1999 yang berbarengan dengan era awal penggunaan internet secara luas di publik, namun secara kaidah, apa yang dimaksud dengan e-Learning bahkan telah ada sejak pertengahan abad ke-19, yakni ketika seorang guru Bahasa Inggris bernama Isaac Pitman yang berasal dari Wiltshire, Inggris  memberikan pembelajaran kepada siswanya melalui sistem korespondensi di tahun 1840.

Sedangkan Learning Management System (LMS) sebagai konsep sendiri sebenarnya telah ada sejak awal abad ke-20, yakni saat seorang psikolog kognitif yang menjadi profesor di bidang psikologi dari Universitas Ohio, Amerika Serikat, memperkenalkan mekanisme pembelajaran dengan menggunakan mesin. Mesin itu khusus bekerja untuk mengelola jawaban dari soal-soal pilihan berganda (MCQ) dari para siswa yang yang mengikuti ujian. Profesor ini bernama Sidney Pressey, ia mulai membangun mesin yang dinamakannya “The Teaching Machine” di tahun 1924.

Kembali ke tahun 1991 dimana istilah e-Learning mulai diperkenalkan, konsep yang terkandung pada istilah-istilah di atas dengan disertai semakin berkembangnya teknologi informasi yang tersedia, maka penerapan e-Learning juga menjadi lebih luas lagi. Yang awalnya hanya di bidang akademis atau dunia pendidikan, maka di abad ke-21 ini, LMS sudah melebar fungsinya sebagai alat bantu akuisisi wawasan dan pengetahuan untuk berbagai organisasi, termasuk menjadi salah satu pilihan utama bagi banyak organisasi korporasi besar dalam meningkatkan kapastitas wawasan dan kemampuan karyawannya. Teknologi internet juga sudah membuat LMS naik level hingga tersedia adanya kanal untuk melakukan tatap muka secara virtual melalui konferensi video (video conference) sehingga interaksi antar entitas tetap dapat dilakukan sebagaimana KBM konvensional.

Dengan konteks saat ini, secara umum istilah LMS akan merujuk pada sebuah aplikasi berbasis web yang membantu kegiatan belajar dan mengajar secara online (daring) dengan fitur-fitur. LMS adalah produk teknologi yang memungkinkan seorang pengajar (juga bisa disebut tutor, guru, atau instuktur) untuk memetakan dan mengimplementasikan kurikulum  atau silabus mereka pada sebuah aplikasi web. Di lain sisi, siswa atau murid sebagai entitas yang menerima materi pembelajaran dapat mengakses kurikulum tersebut juga secara online melalui aplikasi yang sama. Dengan kata lain, LMS memungkinkan para pengajar untuk menyelenggarakan kelas tanpa ruangan dan tanpa tatap muka secara fisik.

LMS sebenarnya bukan hal yang baru dalam teknologi khususnya di bidang internet. Sudah sejak tahun 2002 keberadaanya muncul di dunia pendidikan hanya saja munculnya pandemi mengakselerasi kebutuhan atas LMS menjadi lebih cepat. Di Indonesia sendiri, penekanan proses dan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan perangkat teknologi informasi sudah semakin gencar dilakukan baik oleh regulator maupun pihak internal organisasi sekolah yang telah menyadari begitu pentingnya pengaruh TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) ini pada bidang pendidikan. Ujian Nasional Berbasis Komputer merupakan salah satu contoh konkret bagaimana secara nasional dunia pendidikan kita diarahkan ke sana.

KBM Virtual sendiri merupakan produk LMS yang secara umum dapat digunakan oleh tidak hanya sebuah organisasi sekolah, namun organisasi bentuk lainnya juga bisa mengadopsi fitur yang ada pada aplikasi ini untuk digunakan sebagai media e-Learning, misalnya organisasi perusahaan, BKD (Badan Kepegawaian Daerah) atau bahkan organisasi perangkat desa yang bisa memanfaatkannya sebagai portal peningkatan kapasitas karyawan perusahaan atau media edukasi praktis bagi masyarakat desa. KBM Virtual dibuat untuk memenuhi kebutuhan adanya aplikasi LMS yang memberi kemudahan kepada para penggunanya untuk fokus pada konten pembelajaran, khususnya untuk kebutuhan LMS di Indonesia. Konten yang dimnaksud di sini selain pada konten pembelajaran juga pada konten-konten yang menjadi sarana komunikasi bagi para pemberi dan penerima pembelajaran.

Setelah memahami apa itu LMS, untuk selanjutnya Anda bisa beralih ke laman manfaat LMS berikut yang menjelaskan mengenai ragam manfaat LMS bagi organisasi Anda.