Dengan beragam pilihan LMS di pasar yang tersedia, maka memilih sebuah produk LMS harus dipertimbangkan secara matang dan penting untuk melakukan riset terlebih dahulu, bukan hanya memperhitungkan kendala di masalah teknis, tapi juga harus memahami skema apa yang tersedia di industri ini dan SDM seperti apa yang dimiliki oleh organisasi untuk menjalankan sebuah aplikasi LMS. Selain itu, dari sisi finansial dan bagaimana layanan akan didapat juga harus dimasukkan sebagai parameter yang patut diperhatikan impaknya dalam jangka panjang bagi sebuah organisasi.

 

TEKNIS DAN BIAYA PENYELENGGARAAN LMS

Bagi sebuah organisasi, studi khusus harus dilakukan sebelum mereka mengimplementasikan LMS. Riset ini akan membantu tidak hanya implementasi LMS yang efektif tapi juga bisa mengarahkan penghematan keuangan secara keseluruhan, termasuk di dalamnya biaya untuk akuisisi SDM yang akan mengelola sistem dan konten. Mengapa riset kecil harus dibuat dalam memilih produk LMS? Karena kondisi dan kebutuhan setiap organisasi tentu saja berbeda satu sama lainnya, jadi riset akan membantu dalam mencocokan antara kebutuhan dan sumber daya yang dimiliki oleh organisasi denghan produk LMS yang tersedia di pasaran.

PEMILIHAN INFRASTRUKTUR

Hal awal yang harus dijadikan pengukuran dalam memilih adalah komponen infrastruktur. Terkait dengan open source dan proprietary, maka kepemilikan infrastruktur menjadi hal yang krusial, terutama bila menginginkan SLA atas ketersediaan dan jalannya aplikasi LMS pada tingkatan 100%. Memilih cloud sebagai tempat berjalan tentu saja saat ini ada pilihan terbaik, namun bagi korporasi yang telah memiliki infrastruktur TIK amat baik, maka memberikan ruang pada server web yang sudah ada akan lebih menghemat biaya-biaya infrastruktur mendasar. Sedangkan untuk organisasi yang tidak memiliki sumber daya TIK yang cukup, maka cloud hosting atau menyewa VPS (Virtual Private Server) untuk lokasi dimana LMS berada merupakan opsi utama.

Yang perlu dipertimbangkan dengan hati-hati bila menyewa layanan cloud hosting adalah level SLA dari penyedia jasa ini disamping ketersediaan bantuan teknis yang memadai. Ada baiknya membicarakannya terlebih dahulu dengan bagian teknisĀ  dan layanan pelanggan dari perusahaan penyedia layanan hosting yang kita inginkan, termasuk menginformasikan kepada mereka bahwa kontrak sewa layanan mereka diperuntukan untuk sebuah LMS.

OPEN SOURCE vs. PROPRIETARY

Secara umum, ada 2 jenis LMS yang tersedia di industri pengembangan sistem. Yang pertama merupakan LMS open source yang bersifat gratis dan yang lainnya merupakan produk proprietary (dimiliki oleh pihak tertentu sebagai pembuatnya) yang sifatnya berbayar. Masing-masing tipe ini tentunya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing terutama bila dihubungkan dengan kondisi organisasi yang akan menggunakan produk LMS.

Dalam hal memilih produk open source atau proprietary, maka organisasi harus terlebih dahulu membuat parameter mendasar yang penting untuk dinilai, yakni seberapa besar kebutuhan LMS untuk organisasi. Harus diingat bahwa LMS merupakan sebuah metode dan teknologi dari e-Learning, dimana ada banyak konsep alternatif selain LMS yang bisa digunakan sebagai pembelajaran secara elektronik. Untuk selanjutnya parameter dasar lainnya bila memilih produk LMS adalah SDM dan kapital (keuangan).

Dari berbagai pengalaman kami, di awal biasanya sebuah organisasi akan memilih LMS open source yang dikembangkan oleh pihak ketiga, tentu saja ini karena daya tarik open source yang diasumsikan akan lebih murah. Namun asumsi ini umumnya akan berubah di tengah implementasi setelah memahami bahwa manajemen konten pembelajaran masih memerlukan individu dan tim tersendiri untuk penggarapannya di luar biaya-biaya seperti hosting, manajemen konten umum, plugin tambahan, dan pemeliharaannya. Belum lagi pemutakhiran sistem karena adanya teknologi terbaru yang rupanya menuntut adanya tambahan biaya dan sumber daya keahlian dari pihak ketiga membuat tipe open source menjadi lebih mahal. Di sisi lain, mengadopsi produk LMS proprietary yang siap pakai juga cukup mahal untuk ukuran organisasi umum di Indonesia meskipun menawarkan kelebihan pada mudah dan nyamannya pengelolaan sistem karena ada pihak ketiga yang menangani semuanya.

Ada cara paling mudah untuk memilih antara produk LMS open source dengan proprietary, caranya adalah dengan mengukurĀ  kondisi, dimana bila sebuah organisasi memiliki departemen atau unit khusus yang mampu secara teknis bekerja spesifik untuk mengelola infrastruktur dan sistem aplikasi LMS, maka open source akan lebih cocok ketimbang tipe proprietary. Namun sebaliknya, bila organisasi tersebut tidak memiliki tim teknis yang mumpuni seperti ini atau ada namun waktu dan kemampuannya tidak terkonsentrasi untuk pengelolaan infrastruktur dan sistem aplikasi LMS, maka proprietary merupakan pilihan yang tepat ketimbang open source.

PENGADAAN KONTEN PEMBELAJARAN

Setelah memilih opsi-opsi untuk memiliki sebuah LMS bagi organisasi, maka langkah selanjutnya tentu saja membicarakan konten-konten pembelajaran pada LMS tersebut. Untuk dicermati, memiliki LMS bagi sebuah organisasi tidak berhenti pada kepemilikin aplikasi LMS itu sendiri. Ada bagian penting yang justru akan menjadi porsi besar dari aktivitas sebuah LMS, yaitu pengelolaan konten. Konten yang menjadi bagian LMS merupakan tujuan-tujuan pembelajaran yang akan didistribusikan kepada para penerima pembelajaran (siswa atau murid) dan hal ini tentu saja memiliki skema usaha dan tindakan tersendiri. Jadi dalam teknis dan biaya penyelenggaraan LMS yang harus diusahakan oleh organisasi ada banyak parameter yang harus dibuat untuk menentukan ada di level mana tujuan organisasi dalam memiliki sebuah LMS, termasuk hal-hal mengenai konten. Dalam industri LMS, selain banyak tersedia produk LMS itu sendiri juga ada beberapa entitas bisnis yang fokus hanya pada pembuatan konten pembelajaran. Meskipun di Indonesia keberadaannya tidak sebanyak penyedia produk LMS namun paling tidak ketersediaan layanan ini sudah ada dan mungkin akan berkembang lebih pesat dengan munculnya kebutuhan-kebutuhan spesifik atas LMS.

TOTAL BIAYA DALAM JANGKA PANJANG

Pada industri ini, ada banyak penyedia jasa layanan akses LMS yang sudah membuat paket pembelajaran tertentu bagi yang membutuhkannya, sehingga publik atau organisasi hanya tinggal memilih untuk menjadi anggota penyedia layanan LMS tersebut. Kelebihan dari opsi ini dalam memilih LMS adalah harganya yang amat murah dibandingkan bila organisasi membangun semuanya. Seseorang cukup bergabung, memilih materi, lalu membayar, setelahnya otomatis pembelajaran sudah bisa dilakukan. Kekurangannya adalah pada kustomisasi kebutuhan organisasi yang spesifik, contohnya bagi sebuah Badan Kepegawaian Daerah akan sulit menemukan materi pembelajaran untuk program-program diklat mereka. Skenario lainnya adalah harganya yang murah justru jadi lebih mahal saat organisasi membutuhkan akses dalam jumlah banyak dan penggunaan dalam jangka panjang, contoh hal ini adalah sekolah, dimana jika memiliki LMS sendiri, maka seluruh siswa pada sekolah tersebut dapat mengakses pembelajaran ke seluruh materi yang disediakan oleh sekolah.

LMS KBM Virtual

KBM Virtual merupakan prodk LMS yang siap pakai, yang menggabungkan sifat-sifat produk open source dan proprietary. Sebagai sebuah produk LMS, KBM Virtual bisa didapat secara gratis, namun semua kebutuhan lisensi atas komponen yang ada di dalamnya merupakan kewajiban dari setiap organisasi untuk mengelolanya secara mandiri. KBM Virtual bukan hanya sebuah aplikasi LMS tapi juga bisa dijadikan portal intranet atau website yang cocok untuk sekolah, Badan Kepagawaian Daerah, atau perusahaan dengan banyak cabang yang ingin memiliki sistem pembelajaran elektronik yang terdistribusi dan mudah dalam pengelolaanya.

Sebagai LMS, KBM Virtual memberi ruang kepada organisasi untuk berkreasi sebebas mungkin dalam membuat konten pembelajaran berdasarkan kebutuhan, meskipun bisa dilakukan secara individual namun kami menyarankan dalam pembuatan konten dilakukan secara tim. Contohnya, bila digunakan oleh organisasi sekolah, maka akan lebih baik bila konten pembelajaran dibuat oleh tim masing-masing mata pelajaran, sehingga bisa tercipta materi-materi yang atraktif dan efektif saat diserap oleh para siswa.

KBM Virtual tidak dibuat dengan teknologi yang complicated, kami menggunakan CMS WordPress yang telah dikenal dan digunakan secara luas sebagai CMS serba guna dalam membangun LMS KBM Virtual, jadi pengelolaan dan pemeliharaan aplikasi ini akan relatif mudah karena tersedia banyak SDM yang mampu untuk menanganinya. Berikut ini informasi teknis kebutuhan minimum untuk menjalankan KBM Virtual:

Web Server: LiteSpeed/Apache/Nginx/IIS

Storage: 10 GB

Server Resources: Minimal 2 vCore dan 4GB Memory, ideal untuk pengguna hingga 300 orang (disarankan 4 vCore dan 8GB). Hosting harus mengambil layanan CLOUD HOSTING atau VPS (baik semi managed atau fully managed) bukan SHARED HOSTING.

Programming Language: PHP 7.4

Database Engine: MySQL 5.6 atau MariaDB 10.3.25

CMS: WordPress 5.6

LMS Engine: LearnDash 3.3.02